Bersujud adalah simbol kehambaan
manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena itulah YME memerintahkan manusia
untuk mensujudkan kepalanya (baca: otak), bukan hatinya bukan pula jantungnya.
Aku pernah baca di sebuah buku, komunikasi ada
3 lapis, yaitu komunikasi kepada diri sendiri, komunikasi kepada orang lain,
dan terlebih komunikasi kepada Yang Maha Kuasa. Agama mengajarkan bahwa inti
dari ibadah adalah doa, karena doa merupakan komunikasi antara manusia dengan
Yang Maha Kuasa.
Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu
nantinya harus mati.
Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa
memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.
“Pada satu titik,
sesuatu berasal dari ketiadaan”
Agama dan filsafat
merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan
More
intellegent less religious? I think no.
Ada
yang bilang orang pintar ga butuh Tuhan ga butuh agama, they can exist with
that. So they choose to be an atheist. Karena ilmu pengetahuan berifikir dengan
logika dan dengan penemuan-penemuan yang ada.
Aku ga setuju, mungkin dia hanya punya
kecerdasan Intelektual (IQ) saja, sedangkan banyak juga kecerdasan-kecerdasan
lain seperti Emotional Quetient (EQ) dan Spritual Quoitient (SQ) atau digabung
menjadi ESQ.
Banyak orang pintar sukses, kaya, punya
segalanya tapi hatinya ga tentram. Dia masih mencari apa yang kurang dari
dirinya padahal dia punya segalanya. Rupanya seseorang tersebut ga memiliki
kecerdasan ESQ. Bisa jadi dia sukses dan kaya raya, tapi hubungan dengan teman
keluarga sahabat dan Tuhannya tidak
baik, sehingga dia masih merasa kurang.
Oleh karena itu diperlukan kecerdasan IQ, EQ dan
SQ yang baik, dengan gabungan ketiganya.
Sebaliknya di sekolah rata-rata sejak
kecil kita hanya dididik mengenai kecerdasan Intelektual saja (IQ), padahal
kemampuan emosi juga berperan penting. Percuma juga dong kalo pintar tapi dia
tidak mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
Orang makin pintar itu biasanya rasa ingin tahunya lebih tinggi
sehingga ia mencari tahu akan keberadaan Tuhan dengan ilmu, science, belajar
dari buku research dan lain-lain. Genius people think that, tapi semua
tergantung pilihan dan preferensi masing-masing orang dan pilihan hidup mereka.
Apakah
yang kita cari?
Terkait
dengan pekerjaan, persoalan finansial, dan hidup terkadang “membutakan” mata
dan hati, “menyempitkan akal” serta menjauhkan kita dari apa yang seharusnya
menjadi milik kita yaitu ketentraman dan kebahagiaan hidup. Kemana “akal” kita
dan apakah yang kita cari dalam hidup ini?
Ketika
berhasil mencapai sukses materi, sebagian besar orang merasa ada sesuatu yang
hilang dari dirinya. Hampa. Hidup kering. Mereka berfikir banyak uang akan
membuat mereka bahagia tapi setelah mendapatkannya mereka merasa khawatir dan
ketakutan. Takut uang itu hilang. Mereka berfikir rumah mewah akan membuat
mereka bahagia, begitu mereka mendapatkannya mereka tidak tentram di dalamnya.
Mereka banting tulang siang malam untuk membahagiakan keluarga tapi mereka
tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersama keluarga, sehingga kebersamaan
itu jauh.
Hidup adalah pilihan dan kita harus memilih.
Apapun yang kita pilih haruslah yang mendatangklan kebahagiaan dan juga
keberkahan bagi diri kita dan benar-benar harus muncul dari hati kita. So, what
you choose?
Let’s
talk and ask about life, success, truth, mind, heart, and eternal life
