Beberapa bulan
terakhir seringkali aku mengeluh tentang hidup, tentang hari ini, tentang semua
kesulitan yang sedang aku hadapi saat ini. Entahlah, mungkin aku terlalu fokus
dengan hal-hal yang gagal aku raih, atau mungkin terlalu memikirkan masa depan
yang datangnya pun sebenarnya masih lama. Heran, kenapa ya manusia ini suka
sekali antara berharap pada masa depan, atau terjebak masa lalu? Jarang sekali
rasanya kita bener-bener menikmati hari ini. Apa aku kurang bersyukur?
Entahlah, apa pula definisi syukur itu aku belum terlalu paham. Rasanya kalau
bersyukur itu terkadang membangun kesan bahwa aku masih selamat dari
malapetaka. Seperti, “Syukurlah aku masih bisa senang
hari ini, karena mungkin saja besok aku sedih.”
Sedangkan memang begitulah hidup, senang sedih, berdua akan selalu
berdampingan. Keduanya harus kita jalani dengan penuh kesadaran. Tapi tentunya
itu sulit. Kesadaran penuh. Sangatlah sulit. Apalagi menyadari bahwa senang
ataupun sedih, yang riil hanya saat ini. Apapun itu rasa yang kita alami, dia
hadir di saat ini. Lupakan apa yang ada di pikiran, yang mencoba membawa ke
masa depan, ke masa lalu, untuk menghindar saat ini. Yang nyata adalah yang ada
di depan mata. Yang nyata adalah saat ini. Itulah satu kesadaran yang mendadak
menghampiriku saat sedang melamun memandang laut yang tanpa batas. Debur ombak
yang tak berbatas. Indah sekali rasanya dibuai ketidakmungkinan itu, menjadi
suatu kesatuan yang tak terbatas. Di saat itulah aku menyadari bahwa semua yang
ada adalah yang terbaik. Bahwa keindahan selalu hadir dalam kesatuan tak
berbatas, bersamaan dengan kehancuran. Keduanya ada menjelma dalam suatu
keseimbangan, dan di titik seimbang itulah ketenangan ada. Apakah ia suatu
tempat, mungkin. Suatu rasa, mungkin juga. Aku lupa. Apapun bentuknya,
kehadirannya tak pernah lama. Hanya sekejap, bahkan kehadirannya ironisnya tak
bisa disadari.